DOB : Peta Jalan Membangun Generasi Emas

382

Oleh : Ir. La Ode Budi Utama

MEMBANGUN generasi yang lebih baik adalah tugas pertama generasi saat ini. Ini adalah panggilan alami kita sebagai orang tua atau “generasi tua”. Apapun keadaan kita atau daerah kita, kita ingin anak-anak atau generasi mudanya dapat lebih baik lagi kehidupannya di banding kehidupan kita. “Kita siap makan hanya lauk garam, asal mereka jadi orang”.

Daerah otonomi baru (DOB) yang dibentuk karena motif mengejar ketertinggalan pembangunan, tidak menyediakan kemewahan untuk mencapai tujuan ini. Gedung sekolah, fasilitas dan mungkin guru-guru tidak merata ketersediaannya. Lalu kita mulai dari mana ? Anda jangan mimpi !!!

Kita mulai dari definisi sederhana, bahwa pendidikan adalah interaksi guru dan murid ditunjang oleh peralatan pendidikan untuk mencapai perkembangan anak yang maksimal dalam setiap aspek kehidupannya. Definisi ini mengantarkan kita pada tiga kata kunci, yaitu : guru, murid dan peralatan pendidikan (gedung/kelas, alat praktek dan lainnya).

Kita mulai dari yang sudah ada “di depan mata”, yaitu guru dan murid. Perhatian terhadap guru harus diutamakan. Kesiapan mereka mengajar, dimensinya harus dibangun, yaitu lingkungan sekolah yang “searah dan fokus” dalam membangun manusia, penguasaan atas materi pelajaran dan kesiapan menghadapi murid (rencana tahunan, semester, mingguan dan harian).

Lingkungan sekolah “terarah dan fokus” dibangun oleh kepala sekolah dan kerjasama tim diantara para guru atas capaian-capaian murid yang dituju. Capaian yang dituju dijiwai oleh seluruh guru di sekolah. Ini adalah kerja bersama. Kesiapan ini terbentuk oleh guru yang punya rencana yang baik secara kolektif, secara individu saat murid datang hingga pulang dari sekolah.

Aspek kedua dari pendidikan, adalah murid. Murid yang punya motivasi, menggunakan waktu yang baik di rumah untuk belajar dan kesiapan hadir di sekolah untuk belajar, sangat penting diperhatikan. Dalam hal ini, orang tua punya peran yang sangat penting. Murid berprestasi sudah lazim karena orang tua juga peduli memberikan lingkungan belajar di rumah. Hal ini dicapai oleh sekolah dengan rajin memotivasi murid dan tidak kalah penting, menarik orang tua terlibat dalam pendidikan anaknya di rumah.

Baca Juga :  MUI, Wapres dan Konservasi Negeri "Khalifatul Khamis"

Tidak masuk akal, orang tua yang ingin anaknya cerdas, tapi di rumah TV hidup 24 jam atau penggunaan handphone tidak ada batasan waktu. Orang tua harus tahu, bahwa proses belajar itu dibangun oleh keadaan “anak belajar, mengulang pelajaran tadi di sekolah, mengerjakan pekerjaaan rumah dan siap menghadapi pelajaran besok”.

Kerjasama guru dan lingkungan rumah/orang tua ini, punya satu arah yang sama, yaitu belajar adalah harus dibangun menjadi kebiasaan alami anak. Belajar adalah kesenangan, dan belajar tidak perlu disuruh, belajar adalah panggilan masa anak-anak dan remaja.

Singkatnya, untuk maju dalam pendidikan, pembangunan karakter siswa harus diutamakan, seperti : pondasi iman taqwa, punya tujuan dalam kehidupan, bertanggung jawab, disiplin, tidak cepat menyerah, dan mencari cara untuk untuk unggul (berprestasi).

Kesamaan tujuan dan cara-cara mendidik anak antara guru dan orang tua dibangun melalui pertemuan orang tua murid dan guru, pada awal tahun ajaran, tengah semester atau akhir semester/tahun. Tidak jarang sekolah harus tegas “menuntut” orang tua, dan meminta mereka juga disiplin di rumah.

Aspek ketiga, sarana pendidikan yang memadai adalah pekerjaan yang terkait dengan anggaran daerah. Karena itu, sekali lagi APBD harus diarahkan untuk menunjang guru dan membangun sarana, dan ini biasanya bertahap. Tapi dengan adanya sasaran SDM unggul yang terkonsep baik, konsep ini juga bisa “dijual” ke Pemerintah Pusat, karena Pemerintah Pusat juga menetapkan MDG’s (Millenium Development Goals) tingkat nasional, dan oleh UUD terikat untuk membangun generasi muda. Dan Jakarta tahu, dibentuknya daerah otonom baru adalah cara “birokrasi pendek” untuk mencapai ketertinggalan itu.

Tidak ada jalan pintas, pendidikan adalah buah kerja yang panjang sepanjang hidup anak. Tapi semua negara yang saat ini maju karena disiplin melaksanakan strategi ini (Jepang, Singapura, China, Malaysia, dan lain-lain negara). GENERASI EMAS bukanlah cita cita muluk, tapi sasaran terdekat kalau kita ingin membangun keunggulan daerah yang solid. Semoga, Kabarakatina tana wolio. (Bersambung)

Baca Juga :  Sensus Penduduk 2020 untuk Menghadapi Bonus Demografi Indonesia

Penulis adalah Pembina Yayasan Pendidikan Permata Hati, pemilik TK/SD Islam Pemata Hati, di Tangerang, didirikannya sejak 20 tahun lalu. Jumlah murid 500an dan merupakan Sekolah Standar Nasional dan sekolah percontohan Pemerintah dalam penerapan kurikulum unggul di Provinsi Banten. Sekolah swasta dengan akreditasi A ini memiliki guru-guru bersertifikat, dan pelatih tingkat nasional dan tingkat provinsi untuk Kurikulum 2013.

Facebook Comments