2019, Baubau Target Bebas Kaki Gajah

BAUBAU, Rubriksultra.com- Penyakit kaki gajah atau Filariasis telah menjadi salah satu penyakit yang diprioritaskan untuk dieliminasi. Untuk Kota Baubau, penyakit ini ditargetkan dapat dieliminasi 2019 mendatang.

Wakil Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse mengatakan penyakit kaki gajah ini sempat terabaikan. Namun karena dampaknya bisa menyebabkan kecacatan, stigma, psikososial, terjadi penurunan produktifitas bagi penderita dan lingkungannya serta biaya perawatan yang tinggi maka eliminasi sangat diperlukan.

- Advertisement -

“Apalagi di Kota Baubau berdasarkan Survei Darah Jadi (SDJ) yang dilaksanakan pada 2005 lalu oleh Kementerian Kesehatan, didapati hasil yang cukup signifikan. Dari 500 penduduk yang diperiksa, 2,7 persen diantaranya menunjukan positif mikrofilia dalam darahnya. Makanya Baubau menjadi rentan dan menjadi target eliminasi penyakit ini,” tukas La Ode Ahmad Monianse saat membuka pelaksanaan POMP Filariasis di hotel Galaxy Inn, Selasa 9 Oktober 2018.

Kata dia, posisi Baubau yang strategis juga memberikan dampak rentannya kejadian penyakit menular ini. Sebab, Bisa jadi penyakit menular ini dapat dibawa dari luar daerah karena tingginya mobilisasi.

Olehnya itu, lanjut orang nomor satu di Baubau ini, pemberian obat massal filariasis perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat kalangan bawah.

“Program pengobatan ini perlu dukungan dari kita semua. Moga saja dengan dukungan ini maka Kota Baubau dapat mewujudkan target bebas filariasis atau kaki gajah pada 2019,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, dr Natsir mengatakan penyakit filariasis atau kaki gajah merupakan penyakit menular. Penularannya melalui gigitan nyamuk yang menyuntikan cacing filaria limfatik.

Kata dia, filariasis ini dilaksanakan lima hingga tujuh tahun. Baubau masuk dalam daerah endemis karena data hasil survei SDJ menujukkan lebih dari satu persen.

Baca Juga :  17 Kepala Daerah di Sultra Sepakat Berantas Korupsi

Untuk menghindari penyakit ini maka masyarakat dianjurkan minum obat massal pencegahan. Minimal obat yang diminum satu tahun sekali selama lima tahun.

“Misalnya kita minum Oktober 2018 maka nanti Oktober 2019 lagi baru minum. Tahun depan ini merupakan tahun kelima dan akan disurvei lagi untuk melihat hasil pencanangan selama lima tahun ini,” katanya. (adm)

Peliput : Nanang S 
Editor : La Ode Aswarlin

Facebook Comments