PISN 2026 Hadirkan “Panggung Tanpa Kekerasan” di Sanggar Seni Maedani

BAUBAU, Rubriksultra.com– Semangat membangun ruang seni yang aman, inklusif, dan bebas kekerasan diwujudkan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Pendanaan 2026. Program yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut menghadirkan rangkaian lokakarya dan pertunjukan seni bersama Sanggar Seni Maedani sebagai mitra.

Rangkaian kegiatan mengangkat tema “Inovasi Tari-Teater Lokal untuk Pendidikan Anti-Kekerasan dan Toleransi di Sanggar Seni Maedani”. Kegiatan ini dirancang untuk memanfaatkan seni tari dan teater lokal sebagai media edukasi yang mendorong nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, empati, komunikasi positif, serta penolakan terhadap berbagai bentuk kekerasan.

Program PISN ini dipimpin oleh Waode Muriani Ekasari Virno Bolu, S.Sn., M.Sn. Dosen di Universitas Muhammadiyah Buton selaku Ketua Tim PISN. Dalam pelaksanaannya, program melibatkan Sanggar Seni Maedani sebagai mitra yang memiliki peran penting dalam mendukung proses pembelajaran, eksplorasi kreatif, dan penguatan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan seni.

Seni sebagai Ruang Pendidikan Anti-Kekerasan

Lokakarya menjadi bagian penting dari program karena peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep seni, tetapi juga diajak memahami bagaimana seni dapat menjadi media untuk membangun kesadaran tentang kehidupan yang damai dan saling menghargai.

Melalui proses kreatif, peserta diajak mengeksplorasi berbagai situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti perbedaan pendapat, perundungan, konflik antarteman, sikap saling menghargai, serta pentingnya komunikasi yang sehat.

Pendekatan tersebut memungkinkan peserta belajar mengenai anti-kekerasan dan toleransi melalui pengalaman langsung. Seni menjadi bahasa yang dapat membantu peserta menyampaikan gagasan dan perasaan secara kreatif tanpa harus menggunakan kekerasan.

Tema tari-teater lokal juga menjadi kekuatan utama dalam kegiatan ini. Unsur budaya lokal tidak hanya digunakan sebagai materi pertunjukan, tetapi dikembangkan sebagai sumber nilai dan pengetahuan yang dapat dikontekstualisasikan dengan persoalan pendidikan dan kehidupan sosial saat ini.

Baca Juga :  Bombana Usul Penyediaan Akses Internet Semua Desa

“Panggung Tanpa Kekerasan”

Sebagai puncak rangkaian kegiatan, program menghadirkan pertunjukan bertajuk “Panggung Tanpa Kekerasan” yang dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Pertunjukan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus media kampanye tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan. Melalui bahasa seni, pesan tentang toleransi, empati, penghargaan terhadap perbedaan, dan penyelesaian konflik secara damai disampaikan kepada penonton.

“Panggung Tanpa Kekerasan” juga merepresentasikan gagasan bahwa panggung seni seharusnya menjadi ruang yang aman bagi setiap orang untuk berekspresi, berkreasi, dan saling menghargai. Tidak hanya bebas dari kekerasan secara fisik, tetapi juga dari kekerasan verbal, perundungan, diskriminasi, maupun tindakan yang merendahkan orang lain.

Pertunjukan tersebut menjadi hasil dari proses kreatif yang dibangun melalui lokakarya. Dengan demikian, pertunjukan bukan sekadar tontonan, tetapi merupakan bagian dari proses pembelajaran dan refleksi bersama mengenai pentingnya membangun budaya damai.

Kolaborasi Tim PISN dan Sanggar Seni Maedani

Keterlibatan Sanggar Seni Maedani sebagai mitra menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Kolaborasi tersebut mempertemukan pengalaman berkesenian di tingkat komunitas dengan gagasan inovasi seni yang dikembangkan melalui Program Inovasi Seni Nusantara.

Ketua Tim PISN, Waode Muriani Ekasari Virno Bolu, S.Sn., M.Sn., menekankan bahwa seni memiliki potensi besar untuk menjadi media pendidikan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Melalui tari dan teater, peserta dapat belajar mengenali konflik, memahami perbedaan, membangun empati, dan menemukan cara berkomunikasi tanpa kekerasan. Karena itu, seni tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar untuk membangun kehidupan yang lebih toleran,” ungkapnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis seni lokal juga penting agar pendidikan anti-kekerasan tidak terasa sebagai konsep yang jauh dari kehidupan peserta. Nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan melalui cerita, pengalaman, simbol, gerak, karakter, dan situasi yang dekat dengan lingkungan sosial dan budaya mereka.

Baca Juga :  Wali Kota Baubau Launching Rumah Sehat Terpusat

Mendorong Keberlanjutan

Pelaksanaan lokakarya dan pertunjukan “Panggung Tanpa Kekerasan” diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan dalam aktivitas seni dan pendidikan di lingkungan sanggar maupun masyarakat.

Program ini juga diharapkan dapat menjadi model pengembangan seni yang mengintegrasikan kreativitas, pendidikan karakter, toleransi, dan pencegahan kekerasan melalui pendekatan budaya lokal.

Dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta kolaborasi bersama Sanggar Seni Maedani, Program Inovasi Seni Nusantara Tahun Pendanaan 2026 menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi seni yang tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

Melalui “Panggung Tanpa Kekerasan”, seni diharapkan dapat terus menjadi ruang untuk menyuarakan perdamaian, merayakan keberagaman, membangun toleransi, dan menumbuhkan generasi yang mampu menyelesaikan perbedaan dengan cara-cara yang damai. (Anto)

Facebook Comments