Kabut Asap Mulai Menipis di Baubau, BMKG: Belum Sepenuhnya Hilang

BAUBAU, Rubriksultra.com– Kabut asap yang beberapa hari terakhir menyelimuti Kota Baubau dan sejumlah wilayah Kepulauan Buton mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, Jumat 16 Oktober 2026.

Meski begitu, masyarakat diminta tetap waspada karena asap belum sepenuhnya hilang, sementara hujan belum diprakirakan turun dalam waktu dekat.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari Baubau, Adi Istyono, S.Geo., mengatakan kondisi kabut asap mulai membaik sejak 15 Oktober 2026 setelah mencapai kondisi terparah pada 13 Oktober.

Berdasarkan hasil pengamatan di Kantor BMKG Baubau, jarak pandang sempat turun hingga 2 kilometer pada 13 Oktober sekitar pukul 06.00 WITA. Kondisi tersebut berangsur membaik menjadi 3 kilometer pada pagi hari 14 Oktober.

Pada 15 Oktober, jarak pandang minimum kembali meningkat menjadi 7 kilometer. Bahkan, hingga pukul 14.00 WITA pada 16 Oktober, jarak pandang tercatat mencapai 10 kilometer dan kabut asap tidak lagi teramati.

"Dalam dua hari terakhir kondisinya cenderung membaik. Tetapi, belum bisa kami nyatakan selesai," jelas Adi dalam keterangan perkembangan kabut asap di Baubau, Jumat (16/10/2026).

Adi menjelaskan, berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran asap mulai memasuki pesisir Kepulauan Buton pada 12 Oktober. Asap kemudian meluas ke wilayah Kabupaten Buton, Kota Baubau, Buton Selatan, dan Buton Tengah.

Pada 13 Oktober, sebaran asap terpantau menutupi wilayah Kepulauan Buton hingga sejumlah kawasan di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Sehari kemudian, asap masih terlihat di sebagian wilayah Kepulauan Buton, sebelum tidak lagi terpantau di kawasan tersebut pada 15 Oktober.

Pergerakan asap mengarah ke barat hingga barat laut, mengikuti pola angin yang umumnya bertiup dari timur-tenggara menuju barat laut-utara.

Dari hasil analisis tersebut, BMKG menduga asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan di kawasan timur, termasuk Papua bagian selatan, yang kemudian bercampur dengan asap dari aktivitas pembakaran di wilayah sekitar.

Baca Juga :  Pemkot Baubau Kembangkan Ekraf Majukan Pariwisata Daerah

Dugaan itu diperkuat oleh tingginya jumlah titik panas di Papua Selatan. Pada 6 Oktober, misalnya, terdeteksi 8.375 titik panas, sedangkan pada 11 Oktober tercatat 6.703 titik.

Meski demikian, sumber lokal juga tidak dapat dikesampingkan. BMKG mencatat rata-rata titik panas di empat wilayah Kepulauan Buton meningkat dari 16,6 titik per hari pada periode 1–28 September menjadi 59,3 titik per hari pada periode 29 September–12 Oktober.

"Dari analisis citra satelit, asap ini merupakan kiriman dari timur yang bercampur dengan hasil pembakaran di sekitar kita," ungkapnya.

Kabut asap yang menyelimuti Baubau tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas transportasi udara.

Pada 13 Oktober, satu penerbangan mengalami penundaan. Sementara itu, penerbangan lainnya tidak dapat mendarat dan dialihkan ke Kendari sebelum akhirnya dibatalkan.

Kondisi tersebut terjadi ketika jarak pandang berada di bawah sekitar 5 kilometer, ambang yang dibutuhkan untuk mendukung proses pendaratan pada penerbangan tersebut.

BMKG mencatat jarak pandang di Baubau sejak 27 September hingga 7 Oktober masih berkisar antara 5–8 kilometer. Namun, mulai 8 Oktober, jarak pandang minimum menurun menjadi 4–5 kilometer.

Pada 13 Oktober, jarak pandang bahkan berada di bawah 5 kilometer sepanjang hari. Sehari kemudian, kondisi terburuk kembali terjadi pada pagi hari sebelum berangsur membaik pada siang hingga sore.

Kemarau dan Angin Lemah Membuat Asap Bertahan

Menurut Adi, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan kabut asap bertahan di wilayah Kepulauan Buton.

Salah satunya adalah kondisi musim kemarau. Berdasarkan pengamatan BMKG Baubau sejak Juli hingga 16 Oktober, belum tercatat adanya hujan di stasiun tersebut.

Selain itu, kecepatan angin permukaan yang relatif lemah turut memengaruhi proses pergerakan dan penyebaran asap. Kecepatan angin maksimum harian yang tercatat pada periode 27 September–15 Oktober berkisar 6–11 knot.

Baca Juga :  Baubau Tambah Satu Kasus Baru, Kontak Erat Pasien 03

Pola angin regional yang membawa asap dari kawasan timur juga berkontribusi terhadap masuknya asap ke wilayah Sulawesi Tenggara.

BMKG memprakirakan awal musim hujan di Baubau dan sekitarnya mundur hingga sekitar pertengahan Desember 2026.

Karena itu, hujan yang dapat membantu membersihkan partikel di udara belum dapat diharapkan dalam waktu dekat.

Terkait kualitas udara, Adi menegaskan bahwa BMKG Baubau belum memiliki alat pemantauan PM2,5 secara waktu nyata atau real time. Dengan demikian, pihaknya belum dapat memastikan konsentrasi partikel debu halus yang benar-benar terukur di permukaan Kota Baubau.

BMKG memiliki alat pengambil sampel debu materi tersuspensi di udara ambien, termasuk PM2,5. Namun, sampel tersebut harus melalui analisis laboratorium BMKG Pusat sebelum hasilnya dapat diketahui.

Data kualitas udara yang ditampilkan melalui model komputer hanya memberikan gambaran perkiraan, bukan hasil pengukuran langsung di permukaan.

Karena itu, angka dari model tersebut tidak dapat serta-merta dianggap sebagai konsentrasi PM2,5 yang sebenarnya di Baubau.

Meski kabut asap mulai menipis, BMKG tetap mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum menjamin seluruh partikel asap telah hilang dari udara.

Untuk satu hingga tiga hari ke depan, cuaca di Baubau diprakirakan umumnya cerah hingga berawan. Namun, belum ada potensi hujan yang diprakirakan dalam periode tersebut.

Model prakiraan terbaru menunjukkan potensi asap di Kota Baubau cenderung lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Meski demikian, kondisi ini masih dapat berubah mengikuti perkembangan sumber asap dan arah pergerakan angin.

Adi mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat asap kembali terlihat pekat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Baca Juga :  GARDU IMBOL Gelar Tournament Domino di Baubau

Masyarakat diminta memperbanyak minum air putih, menutup jendela ketika asap terasa pekat, serta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah.

Pengguna jalan dan masyarakat yang berkegiatan di sektor transportasi juga diingatkan mewaspadai kemungkinan penurunan jarak pandang, terutama pada pagi hari.

"Pantau informasi hanya melalui kanal resmi BMKG. Untuk panduan kesehatan yang lebih rinci, masyarakat dapat mengacu pada Dinas Kesehatan," tutupnya. (adm)

Facebook Comments