Empat Prinsip Ditegakkan, Mendahului Sara Pataanguna

255
Karikatur Ir. La Ode Budi

Oleh: Ir. La Ode Budi

JAKARTA, Rubriksultra.com – Saat sholat jum’at, khotib sering mengakhiri khutbahnya, mengingatkan kaum muslimin : Innallah ya’rumu bil ‘adli wal ihsan (QS : An Nahl : 90). Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan (kamu) untuk menegakkan keadilan dan banyak berbuat kebaikan.

- Advertisement -

Adil dilaksanakan dahulu, dan rangkaikan dengan Ihsan.

Tegakkan keadilan, lalu sempurnakan dengan berbuat kebaikan (untuk mencapai taqwa).

Ada hukum sosial yang sama pastinya dengan hukum alam.

Ini disebutkan dalam QS : Ali Imron, 140. ……. Kami pergilirkan (kejayaan dan kejatuhan suatu bangsa) di antara manusia, sehingga Allah SWT mengetahui siapa diantara kamu yang menjadi syahid (meninggal berteguh memegang kebenaran).

Ayat ini terkait dengan kekalahan kaum muslimin di perang Uhud. Ada prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh, kalau ingin jaya dalam kehidupan (dalam konteks bangsa). Dan pasti alami kejatuhan atau kemunduran, jika kita mengabaikan prinsip itu.

Dalam pandangan Penulis, “sara pataanguna” yang diwariskan dari leluhur Buton ada di wilayah “Ihsan”.

Sebelumnya, kita harus mengamalkan dulu prinsip-prinsip, yang juga sudah diwariskan atau dicontohkan oleh leluhur Buton.

Menurut Penulis, minimal ada empat prinsip yang sudah diamalkan oleh leluhur Buton menjaga kejayaan Kesultanan Buton. Dan sudah terbukti bertahan ratusan tahun.

Pertama, Motivasi kepemimpinan di tanah Buton adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bisa dilihat dari urutan “yang dipentingkan” dalam Martabat tujuh : nainaindamo arata somanamo karo, nainda naindamo karo somanamo lipu, nainda naindamo sara, nainaindamo sara somanamo agama.

Akar katanya adalah “nainaindamo”, atau bahasa Inggrisnya “sacrifice”, bahasa arabnya “qurban” (pengorbanan), qoruba-yaqrubu-qurbanan artinya mendekat (kepada Allah SWT).

Berbeda dengan demokrasi yang mengusung hak azasi manusia “hak dan kewajiban”, yang sifatnya pemenuhan motivasi manusia individu (hak dipilih dan hak memilih).

Baca Juga :  HARLAH ANSOR: NIKMATNYA BERBAGI

Kedua, Kepatuhan terhadap Hukum. Bahkan ada sultan dihukum, dan ada yang sampai di hukum mati.

Bukan hanya terkait hukum sosial, tapi juga hukum alam. Banyak upacara adat di tanah Buton terkait penghargaan atau penghormatan terhadap keberadaan dan hak alam (jangan semena-mena).

Tiga, Pemanfaatan Ilmu dan Teknologi. Benteng keraton dan meriamnya yang disiapkan menjaga tanah Buton dan jauhnya ruang jelajah orang Buton saat berlayar, adalah bukti penguasaan iptek yang selaras dengan kemajuan zaman diantara bangsa-bangsa saat itu.

Empat, Regenerasi. Pendidikan saat itu belum bisa menjangkau semua. Tapi untuk menjamin tersedianya kepemimpinan yang memiliki pondasi moral, menguasai adat dan punya kompetensi didirikanlah “Zawiyah”. Pergantian generasi, adalah kenyataan alam. Harus ada persiapan yang baik.

Prinisip haruslah tetap, walau penerapannya bisa berbeda dan berkembang sesuai zaman.

Menurut Penulis, Prinsip inilah yang disimbolkan oleh Kasulana Tombi.

Jangan sampai kita bergeser dari prinsip. Resikonya adalah kemunduran, ketika …..

Kepemimpinan sudah dimotivasi dunia, dan dicari secara dunia (mahal, berhutang) maka bangsa akan mundur. Pemimpin akan mendahulukan dirinya dan keluarga dan timnya.

Jika hukum atau peraturan tidak jadi rujukan, maka keadilan akan rapuh. Pemerintahan bangsa itu pasti lemah.

Misal, pengangkatan pejabat tidak berdasar kompetensi. Laut yang sumber kehidupan kita dirusak dengan bom ikan dan sampah plastik.

Kalau kita tetap saja menggunakan ilmu dan teknologi yang sama (zaman “old”), sementara dunia sudah jauh sekali berubah, maka kita akan jauh tertinggal. Sebagai misal, iptek tangkap ikan, carar bertani, dan lain-lain.

Kalau kita lalai mencetak generasi baru, sesuai dengan kualitas zamannya, maka bangsa itu makin lemah.

Generasi baru bukan lagi menjadi sumber kemajuan, bisa jadi menjadi sumber masalah dan beban yang harus dipikul daerah.

Baca Juga :  Mahasiswa dan Pengalaman Berorganisasi

Karena itu, Penulis berpendapat harus ada “cara khas Buton” dalam proses Pilkada di tanah Kepton mendampingi proses KPU, dan ada “pikiran-pikiran besar” menopang perencanaan daerah di Kepton.

Jika empat prinsip ini ditegakkan, dan dikawal secara adat oleh para pemimpin di tanah Kepton, dan dibarengi dengan pengamalan “Sara Pataanguna”, maka kemajuan Kepton adalah alamiah akan terwujud. Kabarakatina tana wolio.(***)

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1