Liwu tak Terlupakan dan “Disangka Diusir”

389
Ir La Ode Budi

Oleh: Ir La Ode Budi

JAKARTA, Rubriksultra.com– Pada tahun 2016, bulan Agustus, tidak tahu itu saat ombak tinggi, saya ditemani satu mahasiswi dan satu mahasiswa ke Batu Atas.

- Advertisement -

Perahu diombang-ambing oleh ombak tinggi. Dan hampir semua yang ada di perahu muntah. Perjalanan sekitar 4-5 jam.

Berkenalan dengan keluarga dari Ambon yang pulang, silaturahmi singkat di perahu, berujung undangan singgah minum dan salat maghrib di keluarga beliau di Wacuala.

Malamnya, naik ojek, kami ke Gu. Dan hanya sampai di ketinggian. Turun, tanpa ada lampu, ke desa Gu. Banyak warga kaget disana ada Balon Bupati datang.

Pagi hari, ada acara gotong royong terkait dengan pembangunan jembatan. Ngobrol dengan para penduduk desa, ternyata kebanyakan suaminya merantau cari ikan di daerah lain.

“Kebanyakan ibu-ibu, Pak. Bapak-bapak ada, tapi sedikit, merantau,” jelas penduduk disana.

Siangnya, kami naik ke Liwu. Dan sangat terharu, karena semua penduduk disana kumpul KTP untuk saya. Printer fotocopy yang kami bawa, tidak putus bekerja mencopy KTP.

Ada masukan dari guru, bahwa karena tinggi tempatnya, alangkah bagusnya kelas 1 dan 2, bentuk belajarnya biar di atas saja.

Dari Liwu, rombongan membela gunung, ke Asaa dan ke Wacuala. Disana kami kumpul KTP Lagi. Hingga sore hari.

Dan setelah salat maghrib, sebelum kembali ke Gu, bertemu teman seperahu tadi ajak diskusi dan menyampaikan permintaan. “Pak Ode pulang saja,” katanya.

Kalimatnya tidak segera bersambung.

“Deggh, saya tidak diterima disini, sepertinya.”

“Biarkan kami saja yang kumpul KTP, nanti Bapak tinggal satu mahasiswi, biar dia yang bawa ke BUSEL nanti, serahkan ke Bapak”.

Saya hanya menganggguk. Sangat terharu atas kebaikan warga disana.

Baca Juga :  Buton Bisa Selamatkan Demokrasi Indonesia

Saya hanya berjanji pada suatu hari, jika Allah SWT izinkan, saya akan balas kebaikan mereka.

Selama disana, saya tahu, masalah utama di Batau Atas adalah AIR, PANGAN, LISTRIK DAN TELEPON/SELULAR, dan MODAL/PERAHU-ALAT TANGKAP BAGI NELAYAN MELAUT.

Kalau ada jalan Allah SWT saya jadi KADA di Buton Selatan, saya bertekad mensolusikannya.

AIR, solusinya harus suling air laut, sudah ada teknologinya dan makin murah. Bisa dari APBD, bisa dari lobby APBN kementrian PUPR atau CSR BUMN/Swasta.

PANGAN, harus ada kesengajaan dari PEMDA untuk membuat lumbung Pangan (Perusda bisa berperan), sehingga ketersediaan tetap terjaga walau saat terhalang ombak tinggi dan harga tetap terjangkau.

LISTRIK, semoga bisa dibantu Kementrian ESDM, terkait program pulau-pulau terluar (kawan akrab yang pegang anggarannya).

TELEPON/SELULAR, saya yakin ada pemancar khusus yang tembak satelit atau booster khusus. Perlu peran biaya Pemda dan pendekatan khusus dengan Provider, tentunya.

Terkait MODAL melaut dan PERAHU/alat tangkap, bisa dengan pendekatan kombinasi antara bantuan Pemda dan kredit dengan penjaminan oleh Pemda (melalui Perusda), kepada Bank BRI (Kredit Usaha Rakyat).

Semoga……., Karabarakatian tana Wolio. (***)

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3