Menteri KKP Lirik Potensi Perikanan Buteng

165
Bupati Buteng, H. Samahuddin mendapingi rombongan Staf Khusus (Stafsus) Menteri Perikanan dan Kelautan Bidang Pengelolaan Sumber Daya Perikanan, Brigjenpol Victor Manoppo, saat mengunjungi para nelayan dan pengepul di Desa Waburense, Kecamatan Mawasangka, Senin 14 Juni 2021. (Foto Istimewa)

LABUNGKARI, Rubriksultra.com- Potensi kelautan dan perikanan di Kabupaten Buton Tengah (Buteng) mendapat perhatian serius dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono, bahkan mengirim staf khususnya untuk mendata langsung potensi yang ada di Kabupaten Buteng secara langsung untuk dikembangkan.

Adalah Staf Khusus (Stafsus) Menteri Perikanan dan Kelautan Bidang Pengelolaan Sumber Daya Perikanan, Brigjenpol Victor Manoppo, yang diutus melakukan pendataan. Didampingi, Bupati Buteng, H. Samahuddin, rombongan mengunjungi para nelayan dan pengepul di Desa Waburense, Kecamatan Mawasangka, Senin 14 Juni 2021.

Di hadapan Stafsus Menteri, Bupati Buteng, H. Samahuddin menjelaskan, 70 persen warga Buteng berprofesi sebagai nelayan. Potensi hasil laut di Buteng pun sangat beragam.

Mulai dari budidaya rumput laut, tambak, lobster, kepiting rajungan, teripang, ikan teri dan beberapa hasil perikanan dan kelautan lainnya.

Dikatakan, hasil rumput laut yang dikelola masyarakat memiliki kualitas yang cukup bagus. Sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan secara maksimal.

Potensi perikanan tangkap seperti rajungan juga cukup melimpah. Bahkan pasaran rajungan asal Buteng telah dikirim ke Kendari dengan harga jual Rp 80 ribu perkilogram.

Meski begitu, masih ada beberapa kendala yang dihadapi nelayan dalam memaksimalkan produksi perikanan. Olehnya dibutuhkan dukungan semua pihak untuk menggenjot peningkatan produksi nelayan ini.

Bupati Buteng, H. Samahuddin saat berbincang dengan Staf Khusus (Stafsus) Menteri Perikanan dan Kelautan Bidang Pengelolaan Sumber Daya Perikanan, Brigjenpol Victor Manoppo. (Foto Istimewa)

“Potensi perikanan dan kelautan kita cukup besar. Mudah-mudahan dengan kedatangan staf khusus menteri ini dapat memberikan manfaat dan berkah bagi masyarakat agar lebih sejahtera,” katanya.

Staf Khusus (Stafsus) Menteri Perikanan dan Kelautan Bidang Pengelolaan Sumber Daya Perikanan, Brigjenpol Victor Manoppo, mengakui bila potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki Buteng sangat besar. Potensi ini sangat cocok untuk dikembangkan sehingga bisa mensejahterakan masyarakat nelayan yang berada di Buteng.

Baca Juga :  Buteng Kembali Raih WTP

Victor Manoppo juga mewanti-wanti masyarakat Buteng agar dalam pengembangannya nanti mempedomani kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah. Hal ini menjadi keinginan Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono, agar tercipta keseimbangan ekosistem yang dapat memberikan manfaat besar kepada masyarakat nelayan.

“Kami datang dari Jakarta diutus pak menteri untuk mengetahui potensi perikanan dan masalah yang dihadapi masyarakat nelayan disini. Tugas kami mencatat itu semua kemudian melaporkan hal ini ke Pak Menteri,” katanya.

Victor Manoppo berjanji akan meyakinkan Menteri KKP bila potensi di Buton Tengah tidak kalah dengan daerah lain. Olehnya itu sektor ini mesti didukung demi kesejahteraan masyarakat.

Keluhan Masyarakat Nelayan Buteng jadi Prioritas KKP

Staf khusus Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Brigjenpol Victor Manoppo, dalam pertemuan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat nelayan Buteng untuk mengutarakan beberapa permasalahan dan kendala yang dialami. Keluhan ini akan menjadi prioritas bagi KKP.

Salah satu usulan datang dari sejumlah pengepul ikan teri di Desa Terapung, Kecamatan Mawasangka. Mereka kompak meminta kepada KKP untuk pengadaan oven sebagai wadah untuk pengeringan ikan.

Suasana pertemuan dengan nelayan dan pengepul di Desa Waburense, Kecamatan Mawasangka, Senin 14 Juni 2021. (Foto Istimewa)

Rahim, salah satu pengepul menjelaskan, usulan pengadaan oven sebagai upaya memperkecil dampak kerusakan produksi ikan di musim penghujan karena kurangnya paparan sinar matahari langsung pada ikan teri yang telah mengalami proses pemasakan di dapur produksi.

Akibatnya, para pengepul ikan ditingkat desa banyak mengalami kerugian yang tidak sedikit dikarenakan ikan yang diproduksi tidak memiliki harga jual akibat menguning atau berulat.

Rahim mengatakan, puncak hasil tangkap pada April hingga Desember. Tiap nelayan bisa menangkap ikan teri basah 3-5 ton perhari.

Hanya saja ketika musim penghujan tiba, pengepul akan kesulitan saat pengolahan (pengeringan). Jika kondisi itu tidak segera diatasi dengan teknologi, maka dapat dipastikan kesejahteraan para nelayan pun ikut terganggu.

Baca Juga :  Rapid Tes Gratis di Labkesda Sultra Sudah Diikuti 1.156 Orang

“Tolong, tolong sekali kalau bisa dipikirkan bagaimana jalan keluarnya untuk kami para nelayan dan pengepul di Desa Terapung. Mungkin bisa diadakan oven atau semacamnya sehingga di musim puncak seperti ini tidak ada lagi ikan yang terbuang,” pintanya.

Brigjenpol Victor Manoppo mencatat keluhan masyarakat nelayan ini. Pihaknya juga akan mempelajari lebih jauh atas kendala tersebut.

“Aspirasi atau keluhan nelayan tetap akan menjadi prioritas sebagaimana visi dari KKP RI. Saat ini kami baru survey, nanti kita akan dorong mana yang paling potensi dan menjadi skala prioritas. Jelasnya pak Menteri inginkan agar nelayan itu mendapatkan manfaat yang besar dari pekerjaannya,” pungkasnya (adv).

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry