Momen Idul Adha, Gubernur Sultra Tanamkan Falsafah Pengorbanan Pemimpin

71
Gubernur Sultra, H. Ali Mazi saat membawakan khutbah Idul Adha. (Foto Istimewa)

KENDARI, Rubriksultra.com- Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), H. Ali Mazi memaknai momentum perayaan Idul Adha 1441 Hijiriah/2020 Masehi sebagai bentuk pengorbanan dan ketaatan terhadap perintah Allah SWT. Sejak dulu, falsafah kepemimpinan Butuni telah dengan tegas mewariskan arti pengorbanan itu.

Kata H. Ali Mazi, terdapat empat falsafah yang diwariskan para pendahulu yang perlu ditanamkan dan patut untuk diimplementasikan dalam hidup. Falsafah ini telah lama hidup dan telah mendarah daging di tiap lini kehidupan.

-Advertisement-

Falsafah itu diantaranya, “Yinda yindamo arataa somanamo karo, Yinda yindamo karo somanamo lipu, Yinda yindamo lipu somanamo sara, Yinda yindamo sara somanamo agama”.

“Korbankan harta demi diri, korbankan diri demi negeri, korbankan negeri demi pemerintahan, dan korbankan pemerintahan demi agama,” kata H. Ali Mazi mengartikan.

Falsafah kepemimpinan Butuni ini sejalan dengan makna hari raya qurban untuk mengingatkan seluruh umat muslim dimanapun berada pada sebuah peristiwa sakral dan agung yang menjadi bukti betapa besarnya ketaatan, keteguhan iman, dan kecintaan Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail kepada Allah SWT.

H. Ali Mazi melaksanakan salat Idul Adha dengan mengikuti protokol kesehatan Covid-19. (Foto Istimewa)

“Qurban secara bahasa berarti “dekat” dalam kata lain qurban berarti mendekatkan diri kepada Allah melalui ritual penyembelihan hewan ternak,” kata H. Ali Mazi.

Agama Islam sangat menganjurkan ibadah qurban bagi orang yang mampu secara materi, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa memiliki kelapangan harta, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami”.

“Dalam peristiwa qurban, Nabi Ibrahim melepaskan sifat egonya, karena disadari bahwa sifat ego selalu cenderung mengutamakan kepentingan pribadi. Dengan menyembelih hewan qurban sesungguhnya kita dididik untuk selalu mengedepankan kemaslahatan bersama serta memiliki jiwa dan semangat berqurban dalam setiap amal perbuatan kita,” katanya.

Baca Juga :  Sukses Merawat Budaya, Polima Kian Menggema

Ibadah qurban yang wujudnya berupa hewan ternak hanyalah bersifat simbolik yang menjadi isyarat bahwa sifat-sifat kebinatangan harus dihilangkan dan tidak boleh melekat dalam setiap jati diri manusia.

Hal yang terpenting dalam ibadah qurban adalah bagaimana ibadah qurban itu menjadi titik awal kesadaran seseorang untuk menjadi manusia yang sepanjang perjalanan hidupnya mau berkorban untuk kepentingan dan kemashlahatan bersama. Menumbuh kembangkan spirit pengorbanan merupakan bagian mendasar dalam membentuk karakter masyarakat beradab yang memiliki kepekaan sosial, serta mampu mengalahkan egonya sendiri.

 

H. Ali Mazi saat menyerahkan secara simbolis hewan qurban kepada panitia masjid. (Foto Istimewa)

Sayangnya, kata dia, masih banyak disaksikan dewasa ini sifat egois yang hanya menanti pengorbanan orang lain. Egoisme bermula dari ketidak pedulian terhadap sesama, selanjutnya demi kepentingan pribadi dan sesaat, seseorang tidak ragu lagi melakukan kedustaan dan kezaliman terhadap orang lain.

“Ismail hanyalah sebuah simbol dari atribut keduniaan yang kita miliki dan kita cintai. Kalau Ismailnya Nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Ismail kita? Bisa jadi diri kita sendiri, kedudukan dan kekuasaan, keluarga kita, anak dan istri kita, dan harta yang kita miliki,” katamya.

Semua yang dimiliki itulah merupakan ujian keimanan dan ketaatan dalam menunaikan perintah Allah. Apapun yang dicintai, qurbankanlah manakala Allah menghendakinya.

Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya.

“Olehnya, saya selaku umara atau pemimpin daerah mengajak kita sekalian untuk terus bergerak, berbuat dan berkorban tidak hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongan tetapi juga untuk kepentingan dan kemaslahatan bangsa dan negara, khususnya daerah Sulawesi Tenggara yang kita cintai bersama ini,” katanya. (adv)

 

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry