Peluang dan Tantangan di Era New Normal

531
Mega Anisa Rhapha, SST.

Oleh: Mega Anisa Rhapha, SST.

BAUBAU, Rubriksultra.com- Istilah New Normal sudah sering kali digaungkan oleh berbagai kalangan akibat adanya pandemi Covid-19. Sebelum membahas lebih dalam mengenai New Normal, perkembangan Covid-19 ini tentunya perlu kita ketahui.

-Advertisement-

Dalam enam bulan terakhir, masyarakat di berbagai penjuru dunia diresahkan oleh adanya Covid-19. Menurut World Health Organization (WHO), Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan.

Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2019. Covid-19 ini sejak Maret 2020 ditetapkan menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia.

Covid-19 telah memberikan dampak ke berbagai sektor kehidupan. Cepatnya penularan dan belum ditemukannya vaksin, membuat masyarakat harus membatasi ruang gerak dan aktivitasnya di luar rumah jika ingin mengurangi resiko terpapar virus.

Masyarakat tidak bisa berinteraksi dengan bebas seperti sebelumnya di masa pandemi ini. Untuk percepatan penanganan Covid-19 pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020 mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Aktivitas masyarakat di luar rumah semakin terbatas dan kegiatan yang melibatkan banyak orang dilarang. Tak jarang kondisi dengan banyak keterbatasan ini membuat masyarakat menghadapi stres.

Selain itu, dari sisi ekonomi sudah sangat jelas kita lihat dampak yang dirasakan akibat adanya pandemi ini. Berdasarkan rilis data Pertumbuhan ekonomi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Mei 2020, pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada Triwulan I 2020 ini mengalami perlambatan yang cukup dalam yaitu laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) adalah 2,97 persen jika dibandingkan dengan pertumbuhan PDB pada Triwulan I tahun 2020 yaitu 5,07 persen.

Baca Juga :  Buton Bisa Selamatkan Demokrasi Indonesia (Bagian 2)

Kepala BPS, Suhariyanto menyampaikan bahwa pada Triwulan I mayoritas sektor mengalami perlambatan pertumbuhan. Pada April, Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19. Survei ini dilaksanakan secara online yang melibatkan 87.379 responden dari berbagai wilayah di Indonesia.

Salah satu hasil dari survei ini adalah diketahui bahwa penggunaan transportasi umum mulai dihindari. Sebanyak 82,52 persen dari responden survei ini mengatakan bahwa mereka selalu menghindari transportasi umum termasuk disini transportasi online selama pandemi ini.

Selain itu informasi yang didapat dari survei ini adalah mengenai PHK akibat pandemi Covid-19. Akibat adanya kebijakan physical distancing banyak pelaku usaha yang menutup usahanya sementara atau bahkan tidak bisa bertahan lagi.

Hal ini tentunya memberikan dampak secara langsung bagi pekerja di Indonesia. Dari semua yang mengikuti survei ini, sebanyak 2,52 persen baru saja mengalami PHK dan 18,34 persen sementara dirumahkan.

Informasi lain juga disediakan oleh BPS dengan menganalisis Big Data dari informasi yang tersedia untuk umum di situs-situs penyedia informasi. Dari sektor penerbangan telah dianalisis bahwa keberangkatan maupun kedatangan domestik dari dan menuju Jakarta mengalami penurunan cukup besar yaitu keberangkatan domestik dari Jakarta turun 69 persen pada Bulan April dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal ini bisa terjadi akibat adanya peraturan PSBB yang diterbitkan pemerintah. Untuk kedatangan domestik menuju Jakarta juga mengalami penurunan yaitu sebesar 67,3 persen pada bulan April dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Melihat berbagai gejolak perekonomian yang ada, membuat dampak pandemi ini tidak bisa dihindari oleh pelaku usaha kecil. Banyak sekali keluhan yang dilontarkan oleh para pedagang kecil di berbagai media. Omset mereka turun drastis bahkan tak jarang beberapa dari mereka terpaksa menutup usaha mereka.

Baca Juga :  Sang Pejuang Mimpi

Selain usaha kecil, dampak ini juga dirasakan oleh perusahaan besar. Banyak perusahaan yang akhirnya melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) pada karyawannya untuk tetap bisa bertahan pada masa pandemi ini. Beberapa startup seperti Gojek, Grab, dan Traveloka pun juga melakukan PHK. Akibatnya banyak karyawan yang akhirnya dirumahkan dan tidak memiliki pekerjaan.

Untuk menghadapi pandemi ini, semua kalangan harus bisa membaca situasi dengan baik agar tatanan kehidupan masyarakat tetap berjalan. Diperlukan pengetahuan dan informasi yang tepat agar langkah dan strategi yang diambil tepat sasaran. Walaupun ruang gerak kita sedikit terbatas, namun di era teknologi saat ini informasi bisa kita dapat dari mana saja.

Bahkan kita bisa mengakses informasi dari belahan bumi lain meskipun kita hanya berdiam di dalam rumah. Oleh karena itu masyarakat harus pintar dalam membaca peluang yang ada untuk menghadapi pandemi ini.

Dampak pandemi yang terjadi di berbagai bidang kehidupan ini membuat pemerintah terus mencari cara agar masyarakat bisa bertahan di tengah pandemi. Pemerintah meminta agar masyarakat bisa hidup berdamai dan berdampingan dengan virus corona.

Berdamai disini dimaksudkan agar masyarakat bisa menyesuaikan tatanan kehidupan baru di tengan pandemi. Seperti yang kita lihat belakangan ini, beberapa sektor mulai dijalankan kembali dengan penyesuaian tatanan mengikuti Normal Baru atau New Normal. Berbagai regulasi telah disiapkan dan terus dianalisis perkembangannya untuk menyesuaikan tatanan kehidupan masyarakat pada kondisi New Normal.

Selain berbagai dampak negatif, beberapa sektor juga mempunyai peluang baru dengan adanya pandemi ini. Salah satunya adalah peralihan cara berbelanja masyarakat ke belanja online.

Dari Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19 yang dilakukan BPS diketahui bahwa 31 persen mengalami peningkatan aktivitas belanja online selama pandemi. Hal ini bisa menjadi salah satu peluang usaha bagi para pekerja yang baru saja kehilangan pekerjaannya.

Baca Juga :  Cermin Evaluasi Saat Ulang Tahun Daerah

Selain dari aktivitas belanja online. Hal yang bisa menjadi salah satu peluang adalah jasa kurir atau pengantaran. Banyaknya masyarakat yang mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap di rumah menyebabkan meningkatnya permintaan terhadap jasa pengantaran atau kurir.

Peningkatan jasa kurir ini meningkat seiring meningkatnya kebutuhan belanja online masyarakat. Belanja online saat pandemi ini semakin berkembang ke banyak komuditas. Mulai dari makanan, pakaian, bahkan sampai bahan makanan seperti sayur sudah mulai merambah ke bisnis online.

Disamping persiapan kondisi perekonomian, kondisi kesehatan juga tak kalah pentingnya untuk menjadi perhatian. Di tengah pandemi ini kita harus tetap menjaga pola hidup sehat dan mengelola kesehatan mental agar selalu dalam kondisi prima. Walaupun aktivitas luar ruangan dibatasi, masih banyak pilihan olahraga yang bisa kita lakukan di dalam rumah untuk menjaga daya tahan tubuh agar tetap prima.

Pada masa peralihan ini tidak sedikit orang yang mengalami stres karena harus berlama-lama berdiam di rumah. Oleh karena itu, kita harus pintar dalam mengelola stres.

Mencari hobi baru yang bisa dilakukan di rumah ataupun melakukan aktivitas bermanfaat lainnya agar pikiran tetap sehat. Jika tetap beraktivitas di luar maka protokol kesehatan harus tetap dipatuhi. (*)

Penulis adalah Statistisi Ahli Pertama BPS Kota Baubau.

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry