Perahu Maju Bila Dayung Searah

133

Oleh : Abdullah Majid, S.Pd.I

Kemajuan suatu bangsa, berbanding lurus dengan toleransi dan kerukunan pada 3 faktor yakni, toleransi dan kerukunan antar umat se-agama, toleransi dan kerukunan antar umat beragama, serta toleransi dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah.

Bagaimana mungkin suatu peradaban, bahkan teknologi positif, akan maju bila tiga komponen tersebut dalam suatu bangsa dan negara tidak searah dalam kemajemukan berbangsa dan bernegara yang berdaulat.

- Advertisement -

Analogi sederhananya, bila dalam sebuah perahu, taruhlah perahu itu bernama NKRI, bagaimana perahu atau bahtera NKRI akan maju bila banyak yang dayung maju tapi tak sedikit yang dayung mundur. Akhirnya perahu NKRI maju, mundur, maju, mundur. Kalau di konteks kecantikan tidak apa-apalah, seperti lagunya Syahrini “maju, mundur, maju, mundur cantik, cantik, cantik”.

Namun, lain halnya dengan berbangsa dan bernegara. Bangsa ini laksana ditengah samudera dunia yang luas membentang sebagai sarana bekal akhirat, dimana sesuai dengan kompas Kitabullah, bahtera NKRI ini akan menuju pulau Salamah baldatun thoyibatun warabbun gafuuur, “Gemah rifah loh jenawi roso tentram karto raharjo” dimana untuk melintasinya tidak semulus minyak dalam tempurung.

Tidak semudah membalik telapak tangan, dimana dengan pemberitaan di media laksana sesekali bangsa ini didera ujian dan cobaan, angin badai dan gelombang samudera dunia ini seyogyanya membuka mata hati kita akan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan kita sebagai suatu bangsa.

Masalah Maulid Nabi Muhammad SAW misalnya, hampir disetiap website mempermasalahkan dalil dan nash-nya, sehingga dianggab bid’ah yang menyesatkan umat. Akhirnya umat lain sudah kemana-mana, kita masih dimana-mana.

Pertanyaannya adalah bukankah Allah dan para Malaikat-Nya bersalawat atas-Nya, kenapa Maulid dipertentangkan?. Bukankah umat seagama bisa mundur dalam berfikir?. Belumlah dikatakan orang itu beriman kepada Allah dan Hari Akhir, bila Aku kata Nabi belum dia cintai melebihi dari anaknya sendiri (HR.Muslim)

Baca Juga :  Kenapa Harus Ada “Kawin Paksa” Sultra Daratan dengan Sultra Kepulauan di Pilgub Sultra?

Kalau anak saja kita buatkan hari ulang tahun, kenapa Nabi yang lebih umat cintai tak boleh mengadakan ulang tahun-Nya. Bukankah ini dayung mundur?. Bukankah puasa Senin untuk memperingati hari lahir-Ku kata Nabi?. Apakah memperingati hari ulang tahun-Nya salah?.

Maulid sarana da’wah. Bukankah Al-Qur’an memerintahkan kita untuk berda’wah? Maulid itu membaca sirah Jujunjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, apakah ini salah?

Panglima Perang Salahuddin Al-Ayubi telah sukses dalam memajukan Islam pada masanya, Ja’far Al-Barzanji atas hidayah Allah telah menyusun naskah Al-Barzanji yang memudahkan umat mengenal Nabi Muhammad SAW, dan sukses membakar semangat umat Islam untuk menang, maju dan menyebar ke seantero penjuru dunia, apakah ini keliru?

Bukan dengan Maulid ini akan semakin meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah. Apakah ini juga bid’ah? Sementara kepada pemula bukankah ini telah menabur benih iman dan taqwa kedalam dada mereka??? … Aneh…Dan ironi memang.

Kalau semua harus sama persis, kita umat Islam kini harus sama persis dengan umat Islam masa Rasulullah dan para sahabat dulu, pertanyaan orang awam akan muncul.

Kenapa kita kini harus naik mobil, kapal laut pesawat terbang ke Mekkah, kenapa tidak naik unta saja? atau pakai perahu boat saja? Tidak usah pekai pengeras suara, karena masa Nabi kan tidak ada mike (maik dan towa). Jadi pengeras suarah juga bid’ah.

Al-Qur’an yang telah dimushafkan juga apakah ini bid’ah dhalalah?. Untung tidak sampai pada gontok-gontokkan. Kalau sampai terjadi seperti di Timur Tengah sana, bukankah ini dayung mundur namanya?

Tanpa kita sadari, bahwa dengan serba membid’ahkan hal-hal baik dan da’wah hari ini, sama dengan memundurkan umat Islam 1400 tahun ke belakang dan ini diluar dari implikasinya. Bila terjadi maka hal tersebut dapat memundurkan umat ini mencapai minus 2000 tahun. Kenapa???

Baca Juga :  Kepala Daerah di Sultra Janjikan Jokowi Dapat 70 Persen Suara

Jawabannya, karena bila semua harus sama, maka itu sama dengan kita kembali ke masa berkendaraan unta dan boat layar, bila ditambah dengan hasil gontok-gontokkan, maka itu sama dengan 1600 masa kontruksi mental dan membangun peradaban yang baru lagi untuk agama dan bangsa ini. Sungguh suatu kemunduran yang super jauh dan dahsyat.

Tujuh faktor yang bisa membuat Maulid kebablasan dalam kerukunan antar umat seagama, karena jauh dari ketauhidan dalam peribadatan umat kepada Allah dan cinta Rasul, sekaligus melemahkan bahkan memundurkan umat 1500 tahun ke belakang, bila
1. Maulid dilaksanakan terpaksa berhutang karena dengan prasmanan dan pesta joged-jogetan.
2. Maulid digelar dengan khamar dan kemaksiatan hingga harus berhutang.
3. Maulid dilaksanakan tetapi Sholat 5 Waktu ditinggalkan.
4. Maulid dilaksanakan tapi umat seagama semakin jauh dari contoh akhlaq Nabi.
5. Maulid digelar tapi serimonial belaka tanpa hikmah yang dapat dipetik.
6. Maulid dilaksanakan tapi Puasa dan Zakat ditinggalkan,.
7. Maulid dilaksanakan tapi kepala kambing atau sapi yang dikuburkan diyakini ada kekuatan magic untuk benteng diri, rumah dan kampung.

Ini barulah dikatakan peringatan Maulid ini bid’ah dhalalah, Syirik dan kufur. Bila Maulid digelar sebagai serimonial rutin setiap tahun, tapi model dan implikasi seperti 7 faktor tersebut. Bukan saja bahaya, tapi berbahaiyyya pakai tasjid.

Sepanjang Maulid yang digelar penuh dengan kekhusyu’an dan berbuah hikmah akhlaqul kariyma, norma, moral, etika dan tatakrama, sebagai suatu bangsa dalam penerapan beragama, berbangsa dan bernegara, maka Maulid Nabi sangatlah di anjurkan demi kebersamaan untuk maju antar umat se-agama bahkan antar umat beragama dan pemerintah.(***)

Penulis :Guru Pendais SMPN 1 Baubau dan Khatib Masjid Al-Ikhsan Kelurahan Lamangga

Baca Juga :  Melihat Dampak Covid-19 Terhadap Ketenagakerjaan di Provinsi Sulawesi Tenggara

 

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry