BAUBAU, Rubriksultra.com – Langit Kepulauan Buton, termasuk Kota Baubau, masih diselimuti kondisi keruh keputihan hingga Selasa (29/9/2026).
Fenomena yang mulai teramati sejak Senin (28/9) tersebut kini telah dikonfirmasi Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari Baubau sebagai dampak asap yang diduga kuat merupakan kiriman dari wilayah Papua Selatan dan terbawa angin regional menuju Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan rilis yang diterima Rubrik Sultra, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari Baubau, Adi Istyono, S.Geo, mengatakan kelembapan udara yang berada pada kisaran 50 hingga 61 persen menunjukkan bahwa kondisi kekeruhan langit tersebut bukan disebabkan kabut uap air.
Sebab, kabut uap air umumnya terbentuk ketika kelembapan udara mendekati kondisi jenuh, yakni di atas 90 persen.
BMKG juga menjelaskan bahwa pencatatan resmi di stasiun baru dilakukan ketika kondisi asap sudah cukup jelas memengaruhi jarak pandang. Artinya, keberadaan asap tipis kemungkinan telah dirasakan masyarakat lebih awal, termasuk sejak pagi hari.
"Dari hasil pemantauan titik panas atau hotspot dari sensor satelit VIIRS dan MODIS menunjukkan jumlah titik panas di empat wilayah kerja BMKG Baubau justru mengalami penurunan," jelasnya.
Dikatakan, hasil pemantauan titik panas merupakan anomali suhu yang terdeteksi satelit dan bukan merupakan konfirmasi langsung terhadap lokasi kebakaran.
Jumlah hotspot lokal yang relatif kecil juga dinilai tidak sebanding dengan sebaran asap yang dirasakan cukup luas di wilayah Kepulauan Buton.
Pola tersebut mengindikasikan bahwa sumber utama asap kemungkinan bukan berasal dari kebakaran di sekitar Kepulauan Buton maupun daratan Sulawesi Tenggara.
Sebaliknya, konsentrasi hotspot tertinggi di Indonesia saat ini tercatat berada di Provinsi Papua Selatan dan bertahan dalam jumlah besar selama tiga hari berturut-turut.
Berdasarkan data sementara, hotspot terbanyak di Papua Selatan berada di Kabupaten Merauke sebanyak 1.223 titik, disusul Mappi 328 titik dan Boven Digoel sebanyak 240 titik.
Dari pantauan citra satelit Himawari-9 yang dirilis BMKG pada 28 September 2026 pukul 10.00 dan 13.00 WIB juga mendeteksi sebaran asap di wilayah Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya, Maluku hingga Maluku Utara.
Citra tersebut memperlihatkan pola angin di Indonesia yang secara umum bergerak dari arah timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara.
Di atas Laut Banda, pola angin tersebut membentang dari wilayah Papua Selatan dan Maluku menuju Kepulauan Buton dan Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan kesesuaian arah angin regional, sebaran hotspot serta hasil pengamatan permukaan, BMKG Baubau menilai asap yang dirasakan masyarakat di Kepulauan Buton diduga kuat merupakan asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Papua Selatan.
Asap tersebut juga kemungkinan bercampur dengan asap dari wilayah Maluku yang berada pada jalur pergerakan angin yang sama.
Mengapa Asap Bisa Sampai Ribuan Kilometer?
BMKG menjelaskan, kebakaran berskala besar dapat menghasilkan asap yang terangkat hingga lapisan atmosfer lebih tinggi. Pada lapisan tersebut, asap dapat terbawa oleh angin regional hingga menempuh jarak ratusan bahkan ribuan kilometer.
Jarak antara Merauke dan Baubau sendiri sekitar 1.800 kilometer, dengan sebagian besar wilayah yang dilalui berupa lautan terbuka.
Pada malam hingga dini hari, asap cenderung berada dan melayang di lapisan atmosfer bagian atas. Setelah matahari terbit, pemanasan permukaan bumi memicu percampuran udara secara vertikal sehingga asap dari lapisan atas perlahan turun mendekati permukaan.
Kondisi inilah yang memungkinkan asap mulai terasa sejak pagi dan semakin jelas menjelang siang, sebagaimana yang tercatat di Stasiun Meteorologi Betoambari.
Adi menambahkan, peta sebaran asap dari citra satelit hanya menggambarkan asap yang memiliki konsentrasi cukup tebal untuk terdeteksi.
Asap yang telah menipis setelah menempuh perjalanan jauh atau tertutup awan belum tentu terlihat dalam peta sebaran asap, meskipun dampaknya sudah dapat dirasakan di permukaan.
Hal itu pula yang menjelaskan mengapa wilayah Sulawesi Tenggara belum masuk dalam peta sebaran asap nasional pada hari tersebut.
BMKG juga menegaskan bahwa hotspot hanya menunjukkan anomali suhu di permukaan bumi, bukan jumlah asap yang dihasilkan maupun arah pergerakannya. Sensor satelit pun memiliki keterbatasan dalam mendeteksi titik panas pada wilayah yang tertutup awan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak asap, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari saat konsentrasi asap cenderung lebih terasa.
Masyarakat dianjurkan menggunakan masker saat berada di luar rumah. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga yang memiliki asma atau gangguan pernapasan disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Warga juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas atau batuk yang tidak kunjung reda.
Selain itu, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih serta menutup jendela dan ventilasi rumah ketika kondisi asap terasa semakin pekat.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, semak maupun sampah. Jika menemukan titik api, warga diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang.
Pengguna jalan, pelaku transportasi laut maupun penerbangan juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya penurunan jarak pandang akibat kondisi asap tersebut. (adm)






